WELCOME TO MY SIMPLE BLOG, MAY USEFUL FOR US

Friday, September 4, 2015

Laporan Budidaya Tanaman Sawi Hijau



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii
PEMBAHASAN
1.1    Botani Tanaman Sawi.............................................................................................. 1
1.2    Klasifikasi Tanaman Sawi........................................................................................ 1
1.3    Syarat Tumbuh Tanaman Sawi................................................................................ 2
1.4    Teknik Budidaya Tanaman Sawi............................................................................. 4
1.5    Hama dan Penyakit Tanaman Sawi......................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 14



PEMBAHASAN

1.1    Botani Tanaman Sawi
Sawi (Brassica rapa var. Parachinensis L.) merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura dari jenis sayur sayuran yang di menfaatkan daun-daun yang masih muda. Daun sawi sebagai makanan sayuran memiliki macam-macam manfaat dan kegunaan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Sawi selain dimanfaatkan sebagai bahan makanan sayuran, juga dapat dimanfaatkan untuk pengobatan. Selain itu sawi juga digemari oleh konsumen karena memiliki kandungan pro-vitamin A dan asam askorbat yang tinggi. Ada dua jenis caisin/sawi yaitu sawi putih dan sawi hijau.
Daerah asal tanaman sawi diduga dari Tiongkok dan Asia Timur, konon di daareah Tiongkok, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 2.500 tahun yang lalu, kemudian menyebar luas ke Filipina dan Taiwan. Masuknya sawi kewilayah Indonesia diduga pada abad XIX. Bersamaan dengan lintas perdagangan jenis sayuran sub-tropis lainnya, terutama kelompok kubis-kubisan. Daerah pusat penyebaran sawi antara lain Cipanas, Lembang, Pengalengan, Malang dan Tosari. Terutama daerah yang mempunyai ketinggian diatas 1.000 meter dari permukaan laut.
Sistem perakaran sawi memiliki akar tunggang dan cabang-cabang akar yang bentuknya bulat panjang (silindris) menyebar kesemua arah dengan kedalaman antara 30-50 cm. Akar-akar ini berfungsi antara lain mengisap air dan zat makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya batang tanaman. Batang sawi sangat pendek dan beruas-ruas sehingga hampir tidak terlihat. Batang ini berfungsi sebagai alat pembentuk dan penopang daun. Sawi memiliki daun yang lonjong, halus, tidak berbulu dan tidak berkrop. Pada umumnya pola pertumbuhan daunnya berserak hingga sukar membentuk krop.
Sawi umumnya mudah berbunga dan berbiji secara alami baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Struktur bunga sawi tersusun dalam tangkai bunga yang tumbuh memanjang dan bercabang banyak. Tiap kuntum bunga sawi terdiri atas empat helai daun kelopak, empat helai daun mahkota bunga berwarna kuning cerah, empat helai benang sari dan satu buah putik yang berongga dua.
1.2    Klasifikasi Tanaman Sawi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil
Sub Kelas: Dilleniida
Ordo: Capparales
Famili: Brassicaceae (suku sawi-sawian)
Genus: Brassica
Spesies: Brassica rapa var. parachinensis L.
1.3    Syarat Tumbuh Tanaman Sawi
            Sawi pada umumnya banyak ditanam di dataran rendah. Tanaman ini selain tahan terhadap suhu panas juga mudah berbunga dan menghasilkan biji secara alami pada kondisi iklim tropis Indonesia.
Ada baiknya lokasi usaha tani sawi harus memiliki kondisi lingkungan yang sesuai seperti yang dikehendaki tanaman. Sebab, kecocokan keadaan lingkungan menunjang produktifitas tanaman. Hingga saat ini masih banyak di jumpai para petani yang mengalami gagal panen atau memperoleh keuntungan yang rendah karena kurang memperhatikan keadaan lingkungan lokasi penanaman.
Adapun keadaan lingkungan yang cocok untuk membudidayakan tanaman sawi  adalah sebagai berikut:
1.    Keadaan Iklim
Keadaan iklim yang perlu mendapat perhatian didalam memnentukan lokasi usaha tani sawi adalah suhu udara, kelembaban udara, curah hujan, dan penyinaran cahaya matahari.
a.     Suhu Udara.
Selain dikenal sebagai tanaman sayuran daerah iklim sedang tetapi saat ini , tanaman sawi berkembang pesat di daerah panas. Kondisi iklim yang dikehendaki untuk pertumbuhan sawi adalah daerah yang mempunyai suhu malam hari 15,6°C dan siang hari 21,1°C. Pertumbuhan sawi yang baik membutuhkan suhu udara yang berkisar antara 19ºC - 21ºC. Keadaan suhu suatu daerah atau wilayah berkaitan erat dengan ketinggian tempat dari permukaan laut. Daerah yang memiliki suhu berkisar antara 19ºC - 21ºC adalah daerah yang ketingiannya 1000 – 1200 m dpl, semakin tinggi letak suatu daerah dari permukaan laut, suhu udaranya semakin rendah.sementara itu pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh suhu udara.
Jika suhu lingkungan untuk menanam melebihi 21ºC dapat menyebabkan tanaman sawi tidak dapat tumbuh dengan baik. Karena suhu udara sangat mempengaruhi. Jika tidak sesuai dengan kehendakinya maka pertumbuhannya pun tidak bagus,  karena terhambatnya proses fotosintesis yang dapat mengakibatkan terhentinya produksi karbohidrat dan respirasi meningkat lebih besar. Jika sesuai dengan daerah yang dia kehendaki, maka tanaman dapat melakukan fotosintesis dengan baik untuk pembentukan karbohidrat dalam jumlah  yang besar. Sehingga sumber energi lebih tersedia untuk proses respirasi, pertumbuhan tanaman dan produksi tanaman.
b.   Kelembaban Udara
Kelembaban yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman sawi yang optimal berkisar antara 80% - 90%. Kelembaban yang lebih dari 90% berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman, yakni tanaman tumbuh tidak sempurna, tanaman tidak subur, kualitas daun jelek, dan bila penanaman bertujuan untuk pembenihan maka kualitas biji jelek. Kelembaban udara juga berpengaruh terhadap proses penyerapan unsur hara oleh tanaman yang diikuti dengan meningkatnya pertumbuhan tanaman.
c.    Curah Hujan
Tanaman sawi dapat ditanam sepanjang tahun. Curah hujan yang cukup sepanjang tahun dapat mendukung kelangsungan hidup tanaman karena ketersediaan air tanah mencukupi.  Curah hujan yang sesuai untuk pembudidayaan tanaman sawi adalah 1000 – 1500 mm/tahun. Daerah yang memiliki  curah hujan sekitar 1000 – 1500 mm/tahun ialah daerah dengan ketinggian 1000 – 1500 m dpl. Tanaman Sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bila di tanam pada akhir musim penghujan.
d.   Penyinaran Cahaya Matahari
Tanaman melakukan fotosintesis memerlukan energi yang cukup. Cahaya matahari merupakan energi yang diperlukan untuk tanaman dalam melakukan fotosintesis. Energi kinetik matahari yang optimal yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan dan produksi berkisar antara 350 cal / cm2 – 400 cal / cm2 setiap hari. Tanaman sawi hijau memerlukan cahaya matahari tinggi.  
Faktor cahaya sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi. Intensitas cahaya yang tinggi dapat mengakibatkan meningkatnya proses fotosintesis, akan tetapi peningkatan proses fotosintesis akan terhenti pada titik jenuh cahaya matahari. Cahaya matahari yang kurang dapat menyebabkan pertumbuhan dan produksi tanaman menurun.
Tanaman sawi hijau untuk mendapatkan intensitas cahaya matahari yang cukup memerlukan panjang penyinaran matahari 12 - 16 jam setiap hari
2.      Keadaan Tanah
Persyaratan tumbuh bagi tanaman sawi tidak terlalu sulit.Sawi dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik hampir di semua jenis tanah. pH tanah yang optimal untuk budidaya sawi berkisar antara 6-6,5. Media tanam yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik.
Daerah penanaman yang cocok untuk tanaman sawi adalah mulai dari ketinggian 5 meter-200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100-500 meter di atas permukaan laut.
1.4    Teknik Budidaya Tanaman Sawi
A.  Penyemaian Bibit.
Tanaman sawi sebelum ditanam, dibibiti terlebih dahulu. Ada 2 cara pembibitan tanaman sawi :
1.      Benih di semai di bedengan yang berukuran kecil 0.5 x 1 m²  atau luas ukuran sesuai dengan kebutuhan bibit.
2.      Benih di semai di wadah plastik (Poly Bag) dengan luas ukuran wadah sesuai kebutuhan bibit.
Sebelum benih disemai, benih direndam dengan air selama ± 2 jam. Selama perendaman, benih yang mengapung dipisahkan dan dibuang. Benih yang tenggelam digunakan untuk disemai. Kemudian benih disebar secara merata diatas persemaian dengan tanah yang telah dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1,  media tanam setebal ± 7 cm. Benih yang telah disebar disiram sampai basah kemudian ditutup dengan daun pisang atau karung goni selama 2-3 hari. Bila bibit sudah berumur 2-3 minggu setelah disemai, bibit tersebut sudah siap untuk ditanam. Sebaiknya benih yang disemau tersebut diteduhkan di rumah persemaian sampai bibit berumur 2-3 minggu. Bibit tersebut sudah siap untuk ditanam.
Teknik budidaya sawi banyak jenisnya antara lain : Ditanam di lahan terbuka, ditanam di dalam polybag, ditanam dengan sistem hidroponik, ditanam dengan sistem vertikulur, dan masih banyak lagi.
1.      Teknik Budidaya Sistem Hidroponik
Langkah-langkah penanaman secara hidroponik untuk tanaman sawi adalah sebagai berikut :
a.    Siapkan wadah persemaian . Masukkan media berupa pasir halus yang disterilkan setebal 3 – 4 cm. Taburkan benih sawi di atasnya selanjutnya tutupi kembali dengan lapisan pasir setebal 0,5 cm.
b.   Setelah bibit tumbuh dan berdaun 3 – 5 helai (umur 3 – 4 minggu0, bibit dicabut dengan hati-hati, selanjutnya bagian akarnya dicuci dengan air hingga bersih, akar yang terlalu panjang dapat digunting.
c.    Bak penanaman diisi bagian bawahnya dengan kerikil steril setebal 7 – 10 cm, selanjutnya di sebelah atas ditambahkan lapisan pasir kasar yang juga sudah steril setebal 20 cm.
d.   Buat lubang penanaman dengan jarak sekitar 25 x 25 cm, masukkan bibit ke lubang tersebut, tutupi bagian akar bibit dengan media hingga melewati leher akar, usahakan posisi bibit tegak lurus dengan media.
e.    caisim-secara-hidroponikBerikan larutan hidroponik lewat penyiraman, dapat pula pemberian dilakukan dengan sistem drip irigation atau sistem lainnya, tanaman baru selanjutnya dipelihara hingga tumbuh besar.







                                     Gambar Teknik Budidaya Sistem Hidroponik
2.      Teknik Budidaya Sistem Vertikulur
Teknik Vertikulur adalah teknik budidaya tanaman secara vertikal di ruang sempit dengan memanfaatkan bidang sebagai tempat bercocok tanam, sehingga penanamannya menggunakan sistem budidaya pertanian secara bertingkat baik  indoor  maupun  outdoor. Tujuan utama aplikasi teknik vertikultur adalah memanfaatkan lahan sempit seoptimal mungkin. Tanaman sawi dan caisim sangat cocok jika kita budidayakan secara vertikultur karena memiliki perakaran yang pendek. Langkah – angkah penanaman secara vertikul untuk tanaman sawi atau caisim adalah sebagai berikut :
a.       Benih disemaikan pada kotak persemaian denagn media pasir. Bibit dirawat hingga siap ditanaman pada umur 14 hari sejak benih disemaikan.
b.      Sediakan media tanam berupa tanah top soil, pupuk kandang, pasir dan kompos dengan perbandingan 2:1:1:1 yang dicampur secara merata.
c.       Masukkan campuran media tanam tersebut ke dalam polibag yang berukuran 20 x 30 cm.
d.      Pindahkan bibit tanaman yang sudah siap tanam ke dalam polibag yang tersedia. Tanaman yang dipindahkan biasanya telah berdaun 3 – 5 helai.
e.       Polybag yang sudah ditanami disusun pada rak-rak yang tersedia pada Lath House.











                                                      Gambar Teknik Budidaya Sistem Vertikulur
3.      Teknik Budidaya Sistem Lahan Terbuka
            Penyiapan Lahan Untuk Penanaman Bibit
A.   Pengolahan Tanah.
   Pengolahan tanah untuk penanaman bibit dilakukan dalam selang waktu 25 hari setelah mempersiapkan lahan persemaian, atau setelah selesai mempersiapkan lahan persemaian, atau juga 10 hari stelah menyemai benih. Penanaman bibit berlangsung 3 minggu (21 hari) baru dapat ditanami, sedangkan umur bibit pindah 21 – 30 hari setelah semai.
Lahan dibersikan dari gulma. Kemudian tanahnya dicangkul sedalam 20 – 30 cm supaya gembur. Setelah itu, bedengan dibuat dengan ketinggian sekitar 20-30 cm, lebar sekitar 1 m, dan panjang tergantung ukuran/bentuk lahan. Jarak antar bedengan sekitar 40 cm atau disesuaikan dengan keadaan tanah. Setelah tanah diratakan, permukaan bedengan diberi pupuk kandang, dengan dosis 100 kg/100 m². Semprot larutan pupuk cair Bioboost/EM4 (10 ml/1 liter air) pada permukaan bedengan, kemudian permukaan bedengan ditutup dengan tanah. Biarkan selama 3 hari dan bedengan siap untuk ditanami. Jika tanah terlalu asam maka dapat dilakukan pengapuran hingga pH tanah sesuai untuk tanaman sawi. Pengapuran pada umumnya menggunakan dolamit, untuk menaikkan pH tanah sebesar 0,1 diperlukan kapur dolamit sekitar 312 kg/Ha. Cara melakukan pengapuran tanah adalah kapur disebarkan secara merata pada permukaan tanah, kemudian tanah dicangkul tipis-tipis sampai tercampur merata dengan tanah. Sebelum dilakukan pengapuran tanah, sebaiknya dilakukan pengukuran  pHtanh terlebih dahulu . untuk mengetahui pH tanah , cara pengukurannya adalah sebagai berikut:
Þ  Tanah diambil secara acak dan merata pada petak kebun.
Þ  Tanah yang telah diambil, kemudian dicampur hingga merata. Lalu tanahdiambil secukupnya kira-kira satu cangkul.
Þ  Tanah yang satu cangkul tersebut, dimasukkan kedalam ember yang berisi air, lalu dibiarkan sampai mengendap.
Þ  Setelah tanah mengendap, air dipisahkan dari endapan kedalam ember lain.
Þ  Selanjutnya, air tersebut diukur pH-nya dengan kertas lakmus atau pH meter. Nilai pH tersebut menunjukkan derajat keasaman tanah (pH tanah).
Þ  Setelah pH tanah diketahui dan bila tanah kurang dari 6, maka harus dilakukan pengapuran tanah hinggapH tanah mencapai 6-7 sesuai dengan yang dikehendaki tanaman sawi. 
Þ   Pemindahan Bibit Dan Waktu Penyeleksian Bibit
            Penanaman Bibit di Kebun
   Didalam penanaman sawi di kebun meliputi pekerjaan-pekerjaan sbagai berikut : pemindahan bibit dan seleksi bibit, pengaturan jaraktanam, cara menanam dan waktu penanaman.
Pemindahan dan penyeleksian bibit dapat kita lakukan yaitu mecabut bibit dengan hati - hati dari persemaian, lalu sleksi setelah itu bisa langsung di tanam di lahan. Untuk memudahkan penananman nantinya penyemaian di lakukan di tempat dekat lahan penanaman.
Cara ini lebih mudah dan hemat wkatu, tapi kematian tanaman tanam lebih besar karna ketidak hati-hatian dalam mencabut tanaman dan waktu penanamannya yang tidak sesuai. Jika menggunakan sistem langsung tanam sebaiknya tanaman di kasih peneduh yang terbuat dari kulit pohon pisang yang di telungkupkan membentuk piramida  dan ditancapkan di tanah.
1.    Pengaturan Jarak Tanam
Jarak tanam  sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil panen. Pengaturan jarak tanam harus disesuaikan menurut varietas yang di tanam. Pada umumnya jarak tanam yang digunakan adalah 30 cm x 40 cm.
Jarak tanam yang terlalu rapat akan meningkatkan kelembaban disekitar tanaman. Keadaan ini dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan organisme pengganggu, terutama golongan cendawan. Selain itu banyak lagi pengaruhnya jika tanaman di tanam terlalu rapat. Jarak tanam juga mempengaruhi jumlah bibit. Dengan jarak tanam 30 cm x 40 cm diperlukan bibit sejumlah 73.320 / Ha. Penentuan jarak tanam dapat menggunakan meteran gulung atau tali yang telah di tandai.
2.    Cara Menanam
Sehari sebelum bibit ditanam, tanah tempat penanaman bibit diberi air pengairan. Selanjutnya buat lubang dengan sekitar 8 cm. Dan dalamnya lunbang sektiar 10 cm pada lahan yang akan di Tanami. Bibit kemudian ditanam sedalam leher akar. Pada bibit yang diambil sistem cabutan, akar-akar serabut nya ditata secara menyebar. Kemudian di sekitar pangkal batang diurug tanah sambil di tekan agar tanaman dapat berdiri tegak dan kuat.
Selesai penanaman selalu di lakukan penyiraman (memberikan air pengairan). Pada daerah yang beririgasi teknis , pemberian air dapat dilakukan dengan sistem “leb”. Sedangkan untuk darah yang tak beririgasi, penyiraman dapat digunakan gembor.
3.    Waktu Penanaman.
Didalam penanaman waktu penanam harus tepat agar tanaman tumbuh dengan baik, disarankan agar tanaman di tanam di pagi hari atau sore hari. Penanaman pada siang hari dapat menimbulkan kelayuan pada tanaman, sebab tanaman yang baru ditanam akarnya blum dapat berfungsi dengan sempurna dalam penyerapan air. Disampng kelayuandapat juga  disebabkankarena belum adanya keseimbangan antara jumlah air yang diserap oleh akar tanaman dengan proses transpirasi(penguapan air) yang terjadi pada tanaman itu sendiri . sehinnga dengan  demikian penanaman pada waktu siang dan pagi hari dapat mencegah kelayuan . waktu pagi hari yang dianjurkan adalah sebelum jam 09.00 dan pada sore hari setelah jam 15.00.
Bibit yang ditanam di kebun tak semuanya tumbuh baik. Ada kalanya sebagian tanaman mengalami ganguan saat di pindahkan dikebun mengalami gangguan atau hambatan pertumbuhan, seperti tnaman rusak, tumbuhan kerdil dan kurus bahkan sampai ada yang mati. Tanaman –tanaman yang telah mengalami gangguan segera di ganti dengan tanaman yang baru agar produksinya tetap tinggi.
            Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan ini merupakan pemupukan yang kedua setelah pemupukan dasar yang telah dilakukan pada saat pengolahan lahan. Jenis pupuk yang digunakan untuk pupuk susulan yaaitu pupuk urea yang mengandung zat niitrogen; pupuk SP-36 (super phosphate), yang mengandung zat phosphat; dan pupuk KCL (kalium klorida) yang mengandung kalium. Pupuk urea mengandung nitrogen (N) 46%, pupuk SP-36 mengandung phosphat (P2O5) 36%, PUPUK kcl mengandung (K2O) 60%.( Cahyono, 2003).   Penggunaan pupuk kimia hendaknya memperhatika waktu pemupukan, dosis pemupukan, dan cara pemupukan. Hal ini untuk menghindari dari pencemaran lingkungan, dan rusaknya angregat tanah. Sehingga tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pemupukan susulan, yaitu  dosis, waktu, dan cara pemupukan.
§  Dosis dan waktu pemupukan.
Jumlah pupuk yang diberikan dan waktu pemupukan sangat berpengaruh terhadap hasil panen, dimana pemberian pupuk dengan jumlah (dosis) dan waktru pemupukan yang sesuai dapat meningkatkan hasil panen yang sesuai.
Menurut cahyono, kebutuhan pupuk NPK (Urea, SP-36,dan Kcl) perhektar sebagai pupuk sususlan untuk tanaman sawi, adalah sebagai berikut :
Ø  Pupuk urea         = 220 kg/hektar
Ø  Pupuk Kcl          = 73 kg/hektar
§  Pupuk SP-36     = 73 kg/hektar
§  Cara Pemupukan
Cara pemupukan di lahan terbuka yaitu pupuk kima seperti SP-36 dan kcl di berikan 7 hari sebelum tanam sama seperi pupuk dasar dan pupuk urea di berikan setelah tanaman 21 hari dengan cara pupuk urea di tabur dekat tanaman sawi .
§  Pengairan
Pemberian air yang cukup akan meningkatkan pertumbuhan vegetatif seperti tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, dan pertumbuhan genaratif seperti jumlah bunga, buah,dan kualitas biji. Air pada tanaman sawi tergantung fase pertumbuhan tanaman, keadaan iklim, jenis tanah dan teknik budidaya. Pada awal pertumbuhan dapat diberikan air sebanyak 2 kali sehari tergantung cuaca.
Selain penyiraman  perlu juga dilakukan penyiangan dan pendangiran. Penyiangan harus dilakukan dengan baik di sekitar tanaman, agar tidak adsanya perebutan unsur hara oleh gulma, bagusnya gulma di cabut, secara manual atau secara mekanik, atau pun bisa juga dilakukan secara kimiawi. Selain penyiangan perlu juga pendangiran yaitu, pengolahan tanah secara ringan disekitar tanaman. Tujuannya adalah untuk menggemburkan kembali tanah di sekitar tanaman yang sudah memadat karna tertekan oleh air penyiraman atau juga berfungsi untuk memperbaiki tat letak tanaman yang tanahnya hanyut dibawa air.
1.5    Hama dan Penyakit Tanaman Sawi
A.       Hama
Ø Ulat Tanah (Agrotis sp.)
Berwarna coklat sampai coklat kehitaman, menyerang tanaman yang masih kecil/muda setelah ditanam di lahan. Serangan biasanya terjadi pada malam hari, hal tersebut disebabkan karena ulat ini takut sinar matahari. Pangkal batang tanaman yang masih sangat sukulen digerek hingga putus, akibatnya tanaman mati karena sudah tidak memiliki titik tumbuh. Apabila tanaman belum diserang, sebaiknya dilakukan pencegahan dengan cara melakukan sanitasi lahan secara benar, termasuk pada galengan atau parit di sekitar lokasi lahan. Akan tetapi bila tanaman sudah terserang, perlu dilakukan pemberantasan. Serangan ulat tanah biasanya berlangsung tidak serentak alias sedikit demi sedikit. Apabila ditemukan gejala awal serangan, segera berantas dengan insektisida berbewntuk butiran (granul). Caranya dengan menaburkan sedikit insektisida tersebut di samping pokok tanaman, dengan dosis 0,3 - 0,4 gr per tanaman atau 6 kg insektisida granul per hektar. Insektisida granul yang dapat diaplikasikan di antaranya Furadan 3 G dan Curater 3 G.
Ø Ulat Grayak (Spodoptera litura dan Spodoptera exigua).
Spodoptera litura berukuran sekitar 15-25 mm, berwarna hijau tua kecoklatan dengan totol-totol hitam di setiap ruas buku badannya. Sedangkan Spodoptera exigua, mempunyai ukuran yang sama dengan Spodoptera litura tetapi warna tubuhnya hijau sampai hijau muda tanpa totol-totol hitam di ruas buku badannya. Kedua jenis ulat ini sering menyerang tanaman dengan cara memakan daun hingga menyebabkan daun berlubang-lubang terutama pada daun muda. Agar tanaman tidak terserang, maka perlu dilakukan pencegahan yaitu dengan melakukan sanitasi lahan dengan baik. Selain itu juga perlu dilakukan dengan cara memasang perangkap kupu-kupu di beberapa tempat. Perangkap ini dibuat dari botol-botol bekas air mineral yang diolesi dengan produk semacam lem yang mengandung hormon sex pemanggil kupu-kupu. Apabila tanaman ditemukan telah terserang ulat ini, segera semprot dengan insektisida yang tepat yaitu Matador 25 EC, Curacron 500 EC dan Buldok 25 EC. Dosis yang digunakan disesuaikan dengan anjuran pada label kemasan.
Ø Ulat Perusak Daun (Plutella xylostella),
Berwarna hijau muda, dengan panjang tubuh sekitar 7-10 mm. Pada saat melakukan penyerangan, ulat ini suka bergerombol dan lebih menyukai pucuk tanaman. Akibatnya daun muda dan pucuk tanaman berlubang-lubang. Jika serangan sudah sampai ke titik tumbuh tunas, pertumbuhan tanaman akan terhenti, sehingga proses pembentukan krop akan sangat terganggu, dan lebih parah lagi, krop tidak terbentuk. Agar tidak mudah terserang maka perlu dilakukan sanitasi (penyiangan) lahan dengan baik. Jika serangan hama ini sudah tampak, segera semprot dengan insektisida yang tepat, yaitu March 50 EC, Proclaim 5 SG, Decis 2,5 EC dan Buldok 25 EC. Dosis yang digunakan sesuai anjuran yang ada pada label kemasan.
Ø Leaf Miner (Liriomyza sp.)
Serangga ini termasuk hama penggorok daun. Serangga dewasa meletakkan telur di daun, selanjutnya larva yang berukuran sangat kecil masuk ke dalam daun. Larva ini memakan daging daun dan hanya menyisakan kulit daunnya. Akibatnya, di permukaan daun tampak bercak kuning kecoklatan melingkar-lingkar ke segala arah yang sebenarnya merupakan jalur larva memakan daging daun. Untuk mencegah terjadinya serangan dengan menghindari menanam di lokasi yang terindikasi banyak serangan hama ini. Selain itu tentu saja perlu dilakukan sanitasi lahan dengan baik. Namun bila sudah nampak gejala serangan, segera semprot dengan insektisida sistemik karena sasaran hama berada di dalam daging daun. Insektisida sistemik yang dapat digunakan di antaranya Trigard 75 WP dan Proclaim 5 SG. Dosis penggunaannya sesuai dengan anjuran yang terdapat pada label kemasan.
B.       Penyakit
Ø Penyakit Busuk Daun (Phytoptora sp.).
Gejala serangan ditandai dengan bercak basah coklat kehitaman di daun. Bentuk bercak tidak beraturan, awalnya kecil, lalu melebar dan akhirnya busuk basah. Serangan akan semakin parah jika suhu dan kelembaban udara terlalu tinggi. Umumnya kondisiini terjadi ketika hujan sehari diikuti panas atau terik pada beberapa hari berikutnya. Agar tanaman tidak diserang, sebaiknya dilakukan pencegahan dengan melakukan sanitasi lahan dengan baik, selain itu juga hindari menanam pada musim hujan. Apabila menanam pada musim hujan, jarak tanam perlu dilebarkan menjadi 30 x 25 cm, dan selokan diperlebar agar sirkulasi air dan udara lancar. Namun bila sudah tampak gejala serangan, segera semprot dengan fungisida yang tepat yaitu Bion M 1/48 WP, Topsin M 70 WB dan Kocide 60 WDG. Dosis yang digunakan sesuai dengan anjuran yang ada pada label kemasan.
Ø Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae).
Penyakit ini menyerang perakaran tanaman. Gejala serangan ditunjukkan dengan tanaman tampak layu hanya pada siang hari yang cerah dan panas. Sebaliknya, pada pagi hari kondisi tanaman segar. Pertumbuhan tanaman yang terserang penyakit ini akan terhambat. Apabila tanaman dicabut, akan tampak benjolan-benjolan besar seperti kanker di perakarannya. Jika tingkat serangannya sudah parah, tanaman sama sekali tidak bisa berproduksi. Pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan :
·  Menghindari menanam di lahan bekas tanaman sawi (brokoli, bunga kol, kol, sawi putih, dan kailan) yang terindikasi serangan penyakit ini.
·  Melakukan pergiliran tanaman, terutama dengan jagung dan kacang-kacangan untuk memutus rantai hidup fungi penyebab penyakit ini.
·  Penggunaan teknologi EMP dikombinasi dengan pengapuran tanah (untuk menaikkan pH tanah).
Namun bila tanaman sudah terserang penyakit ini, seharusnya dilakukan pemberantasan. Akan tetapi sampai saat ini belum ditemukan fungisida untuk memberantas penyakit akar gada, khususnya setelah tanaman terserang. Dengan demikian hal yang perlu diperhatikan adalah melakukan pengawasan dan pencegahan secara ketat agar usaha tani sawi


DAFTAR PUSTAKA



5 comments: